Personal Blog

Personal Lifestyle Blogger, Parenting, Review, Culinary, Travel, Tips and more...

About Me

Restocoffee [DRAFT II] -CERPEN-

with 2 comments
¬ DRAFT I

Udara pagi selalu membawa rasa bahagia tersendiri bagiku, sesuatu yang baru, harapan yang baru, dan mungkin, pengalaman baru juga sudah menantiku di luar sana. Dengan tergesa aku melangkahkan kakiku untuk segera sampai di kubikel kecil, kubikel yang multifungsi, sebenarnya. Karena seringkali kubikelku menjadi tempat curhatan teman-teman sekantorku, atau bahkan mereka dengan senang hatinya bergosip ria di sana, tanpa mempedulikan suasana hatiku. Tapi bukan itu yang aku pikirkan saat ini. Di sana sudah menanti setumpuk berkas untuk aku kerjakan. Sebelum Dirga memasang muka garang – yang dibuat-buat, tentunya – karena ini hari terakhir, aku harus segera menyelesaiakan dan menyerahkan berkas-berskas itu padanya. “Pagi, Bu Wulan” sapa Dinda, resepsionis di tempat kerjaku, sambil mengoles pipinya dengan bedak, entah untuk yang ke berapa kalinya. “Pagi, Dinda” sapaku sambil terus melangkah.

☼☼☼
Restocoffee [DRAFT II] -CERPEN-
Source: Restocoffee
Dirga, atasan sekaligus admirer-ku, terdengar berlebihan, tapi itulah kenyataannya. Sudah dengan santai menunggu di kubikelku, dia selalu punya alasan untuk setiap pagi mampir di sana, entah itu untuk ngopi sejenak, atau ada saja hal tidak penting, yang ditanyakannya padaku. Aku, yang terkadang enggan untuk sekadar menjawab, hanya tersenyum masam untuk membalas pertanyaannya. “Pagi, Wulan” dengan mata yang lekat menatapku tanpa mengalihkannya sedikitpun. “Pagi, Ga” dengan setengah hati aku membalasnya. Tidak mau terlalu lama melihat dia di kubikelku. Aku menaruh tas dan segera menuju pantry untuk menghangatkan lambungku dengan secangkir mocacinno, minuman kafein yang sudah lama menjadi favoritku. Tapi, bukan Dirga namanya kalau dia menyerah begitu saja, dia masih dengan santainya menungguku kembali dari pantry. “Lan, nanti malam ikut, yuk?” dia mulai membuka obrolan pagi ini. “Kemana?” tanyaku dengan nada, yang jelas, sinis. “kamu maunya kemana?”. “udah, deh.. Masih pagi jangan gombal. Tuh, kamu nggak lihat berkas numpuk kayak, gitu.” Inilah yang nggak aku suka dari Dirga, ada saja bahasan nggak jelas, hanya untuk bisa ngobrol denganku. “makan malam di Restocoffee jam 8. Deal!” dan kebiasaannya yang seenaknya menentukan sesuatu tanpa aku setujui – dan biasanya dia harus rela membatalkan persetujuannya sendiri – Tanpa meng-iyakan ajakannya. Aku meraih tumpukan berkas yang ada di mejaku. Kalau diingat-ingat, Dirga lah yang selama ini, selalu siap, kapanpun, ketika aku membutuhuh bantuan, seperti saat aku harus bersusah payah mencari kontrakan baru yang jaraknya harus lebih dekat dengan tempat kerjaku, selain menghemat biaya, aku pun bisa menghemat waktu, mengingat macet yang sekarang ini seakan sudah menjadi trendsetter, meskipun hanya di kota pinggiran. Tapi, Damar. Nama itu sama sekali tidak pernah lepas dari pikiranku. Lelaki yang menjanjikan kebahagiaan untukku, namun sekarang entah di mana dia berada. “Wulan… “ suara Arin, menyadarkanku dari lamunan, yang hampir tiap hari jadi rutinitasku. Arin,  wanita lajang yang sudah siap untuk melangkah ke pelaminan. Tapi sayang dia masih belum menemukan jodohnya.”ngagetin aja deh, kamu, Ai” “eh, nanti siang, enaknya makan di mana, ya, Lan?” “hellooo.. Ini masih pagi dan kamu udah bahas makan siang, aja?”. Tanpa diundang, tiba-tiba Dirga menyaut obrolanku dengan Arin. “Ke kantin, yuk?” Arin yang terlalu peka dengan bau-bau traktiran langsung melangkah linglung, berjalan di belakang Dirga. Memang, setiap kali Dirga mengajak aku dan Arin maupun tema kantor lainnya untuk ke kantin – selama ada aku – sudah pasti dia yang akan membayar apa saja yang telah dipesan. Aku bergeming, tetap duduk di depan meja kerjaku, dan mengerjakan, apa yang seharusnya aku kerjakan pagi ini. Dirga yang menyadari ketidak ikut sertaanku, mengedipkan matanya ke arah Arin. Entah, mungkin dia pernah mengikuti program pembelajaran bahasa tubuh, Arin seakan mengerti kedipan Dirga, dan dalam hitungan detik, lenganku sudah digandengnya begitu, saja. “Aarrgh.. Sama sekali aku nggak suka dengan situasi seperti ini, belum lagi, pekerjaanku yang belum selesai, akan semakin memberi kesempatan Dirga untuk terus merecokiku” gerutuku dalam hati. 

                                                                                   ☼☼☼

Hanya tinggal beberapa berkas yang harus aku selesaikan, dan aku bisa pulang, mengistirahatkan badan dan pikiran. Dengan mandi air hangat, mungkin. Aroma parfum aqua terasa mendekat ke kubikelku, dan aku benar-benar hafal dengan wewangian ini. Dirga, dia pasti akan menagih janji sekaligus persetujuannya sendiri, untuk mengajakku makan malam di Restocoffee. Selain menyediakan aneka jenis kopiRestocoffe juga menyediakan menu makanan yang, bisa dibilang sesuai dengan selera makanku. Sesekali memohon, Dirga tetap tidak berhasil membujukku untuk makan malam dengannya, sebagai gantinya, dia akan mengantarkan aku pulang ke rumah kontrakan yang sudah satu tahun setengah aku tinggali. Aku menyetujuinya. Sampai di depan pagar kontrakan, Dirga dengan segera membukakan pintu mobilnya untukku, tapi aku tahu, selalu ada imbalan atas perlakuan baiknya itu. Benar saja, aku segera memalingkan wajahku, ketika Dirga akan mengusap lembut pipiku dengan tangannya yang hangat. Terkadang aku berpikir untuk menyambut dengan hangat, semua perlakuan baik Dirga. Tapi aku merutuki diriku sendiri, yang tidak bisa, bahkan enggan untuk membuang jauh-jauh kenangan tentang Damar.

2 comments:

  1. Semoga cepat selesai cerpen, atau bahkan menulis novel :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha.. Tirimi kisih.. Cuma nulis buat blog aja, kali.. Tapi kalo ada kesempatan aku nggak nolak, kok. :D

      Delete

Spamming? Nope!

You Can Contact Me

elisa.fariesta@gmail.com