Personal Blog

Personal Lifestyle Blogger, Parenting, Review, Culinary, Travel, Tips and more...

About Me

Masa Tugas PPL. [Kisah di Balik Layar Pesta Demokrasi I]

with 8 comments

Merdeka!!!!!!!!!! 

(kata yang aku teriakan ketika aku telah menuntaskan pekerjaan yang.. lumayan bikin tangan keram)

Fyuuhh.. Rasanya baru saja terbebas dari.. Tekanan-tekanan yang sungguh meresahkan. Mulai dari 8 April yang super bikin mondar-mandir dari pagi, siang, sampai malam, menjalankan tugas baru dan harus mengkoordinasikan tugas masing-masing bersama tim sampai dengan hari H yang.. Mencekam. Sama sekali tidak ada kendala selama mengawasi TPS pada pagi sampai sore hari pada tanggal 9 April 2014 tersebut. Tapi menjelang malam, perdebatan-perdebatan kecil mulai muncul dari masing-masing TPS. Mulai dari kurangnya form-form yang harus diserahkan ke tim PPL, tabel-tabel dalam form yang kosong belum terisi, dan ke-nervous-an ku yang sedikit belum bisa aku atasi. Huft.. Itu sangat melelahkan terlebih aku tidak bisa mengendarai motor sendiri untuk menjangkau satu TPS ke TPS lain yang letaknya lumayan kalau mobile-nya pakai jalan kaki. Jadi harus nunggu antar-jemput sana-sini. Dan, aku berfikir itu sangat membuang-buang waktu, sebentar apapun itu.(Ya Rab.. Kapan aku bisa naik motor?)  But, Thanks to Abang dan Adek yang siap sedia kapan saja saat aku butuh.. Ojekan. (?)


Kisah Pengawas Pemilu Lapangan
Source: Pengawas Pemilu Lapangan
Tepat pukul 07.00 WIB aku mulai memantau 4 TPS yang sudah menjadi bagianku sesuai dengan  hasil koordinasi dengan tim PPL sebelumnya. Memasukkan surat mandat untuk relawan PPL yang aku bawahi, mengecek perlengkapan dan apa saja yang kurang atau belum dipasang oleh KPPS di TPS tersebut. Semua berjalan lancar, relawan sudah aku konfirmasi untuk stay di TPS yang aku arahkan, karena ada 2 relawan, jadi 1 relawan mendapat bagian 2 TPS dan aku arahkan setengah hari untuk tiap TPS. Mulai dari pemungutan suara yang berakhir pukul 13.00 WIB sampai dengan penghitungan suara yang berbeda batas akhirnya dari masing-masing TPS. Sengaja aku menaruh relawan pada waku penghitungan suara di TPS yang anggota KPPS nya agak kurang bersahabat. Jadi nanti waktu selesai penghitungan suara aku bisa langsung mendapat kabar dari relawan itu untuk segera mengambil form-form yang seharusnya menjadi hak tim PPL. Dan TPS yang sekiranya bisa aku atasi akan aku datangi sendiri. – 

Sebelum datang batas waktu penutupan TPS untuk menggunakan hak pilih yaitu pukul 13.00 WIB. Aku tidak mau menyia-nyiakan hak pilihku begitu saja, aku memasukkan form 6, form yang sebelumnya diberikan oleh KPPS kepada warga yang akan menggunakan hak pilihnya di TPS yang dibawahi oleh KPPS tersebut. Setelah form 6 di tanda tangani oleh Ketua KPPS, karena wilayahku termasuk wilayah Kabupaten aku mendapatkan 4 surat suara, surat suara untuk DPR RI, DPD, DPR-Provinsi dan DPR-Kabupaten/Kota, tentunya aku memperhatikan satu persatu calon-calon penentu nasib rakyat itu, yang sebelumnya juga aku sudah menjelajah di internet tentang riwayat hidup mereka yang sekarang ini sudah tidak sulit ditemukan di mesin pencari Google. Bahkan beberapa calon memang sudah ada yang membuat website pribadi mereka, berisi tentang data diri, riwayat hidup, kegiatan yang dilakukan dan lain sebagainya. Dan, yang menjadi salah satu pertimbanganku saat itu juga adalah, siapa calon yang sengaja membagikan money politic ketika berkampanye, dan siapa calon yang benar-benar terlihat tulus dalam berkampanye, menurut pandanganku. Akhirnya aku telah memanfaatkan hak pilihku dengan baik. Sedikit harapan bagi calon terpilih, semoga janji bukan sekadar janji, jangan sampai janji di awal menjadi caci maki di hari kemudian. Anda dipilih oleh rakyat. Dan sudah selayaknya anda menunjukan kinerja serta memberikan hasil yang terbaik untuk rakyat. Lega rasanya ketika melihat ujung jari telunjukku telah berubah warna menjadi ungu.

Makan siang. Yah.. Setelah beputar-putar ria dari TPS satu ke TPS lain, dan menyempatkan diri untuk menggunakan hak pilih di TPS tempatku memilih, akhirnya jam 1 tiba dan waktunya tim untuk Ishoma. (Istirahat, Sholat, Makan) sejenak mengistirahatkan kaki yang sudah linu dan punggung yang terasa kaku. (it's sounds Lebay?) karena beberapa jam, atau lebih tepatnya beberapa hari sebelumnya memang sudah harus gerak cepat, jadi sebenarnya capeknya juga sudah kerasa di hari sebelumnya. selain itu didukung dengan cuaca yang saat itu sedang labil, membuat kondisi badan semakin nge-drop, tapi tetap semangat. Setelah Ishoma di posko, atau lebih tepatnya, rumah salah satu tim yang letaknya strategis untuk dijadikan sebagai tempat berkumpul, aku menyempatkan diri untuk mampir ke rumah sebentar, untuk sekadar mengistirahatkan badan.

Kisah Pengawas Pemilu Lapangan
Foto Pribadi
Pukul 17.00 WIB penghitungan suara di salah satu TPS ada yang sudah selesai. Relawan yang kebagian menjaga TPS itu, karena apa? Karena aku sempat "dibentak" sama Ketua KPPSnya ketika mengingatkan akan form C yang harus diserahkan ke tim PPL. Helloooo Pak... Kurang piknik mungkin sampean.. Yakali! Eits.. Tapi waktu pengambilan formnya, ternyata si bapak KPPS sudah menyiapkan form-formnya untukku. Ah, benar sekali "Don't Judge A Book By It's Cover" tapi sayangnya dia orang, bukan buku. Kamu ternyata orang baik ya pak. Ngapunten, Pak :'). Dan kenapa aku menyimpulkan seperti itu? Karena.. Meskipun aku sudah mengingatkan setiap ketua KPPS untuk menyiapkan rekap form C untuk PPL dan itu sudah jelas masuk dalam intruksi, KPPS kadang mengabaikan peringatan serta intruksi tersebut, begitu saja. Ada yang dengan alibi, untuk form C yang diterima memang kurang (padahal dalam hal ini seharusnya PPS sudah memperhitungkan jumlah form C yang akan diberikan oleh TPS kepada PPL, saksi-saksi yang dihadirkan partai, serta beberapa yang harus disetor ke PPK dan lain sebagainya), dan ada juga, ketika ditanya isian formnya kok masih kosong? Dengan lantangnya mengatakan "kita ini lagi kerja, mbak!" iya. Dengan sedikit kasar. Mungkin mereka mengira, aku juga sedang tidak lagi kerja. KPPS yang begitu banyaknya saja merasa kerepotan untuk sekadar memberikan rekap form C pada PPL, apa lagi PPL yang hanya sendirian dan harus meng-cover beberapa TPS? Hmmh.. Sedikit menyebalkan, bukan? Dengan niat meringankan tugas para KPPS, meskipun aku sendiri yang harus kebingungan dan kelabakan. Alhasil aku yang harus merekap sendiri ke kantor desa. Baik, kan, aku? Tapi.. Pssstt! Ini sebenarnya tidak boleh, loh. Harus dapat dari TPS langsung. Lah, mau bagaimana lagi, dari pada tidak dapat laporan sama sekali. Aku bisa apa? Selesai mendapatkan rekap form C dari 4 TPS, aku langsung menuju posko untuk menyerahkan form tersebut untuk direkap dengan 12 TPS lainnya. Dan itu selesai sampai menjelang pukul 02.00 WIB dini hari. Dengan mata yang terkantuk-kantuk. Ciyan, kan? Hiks..

Sudah boleh lega, belum? BELUM!

Dua hari setelahnya.. Tanggal 10, kemudian tanggal 11.. Ternyata masih ada form A.PS dan form D yang harus disetorkan lagi. Bukan cuman selembar-dua lembar, dan bukan hanya setabel-dua tabel(?). Melainkan berlembar-lembar dan bertabel-tabel. DAN. Harus diisi pakai tulisan tangan. NO KETIK. NO COPY! Dengan DL yang rasanya cuman sekedipan mata saja. Dan, di sinilah, kesabaran mulai diuji. Berlembar-lembar form dengan ratusan tabel yang lumayan membuat mata siwer. Tulis tangan. No ketik. No copy. Bayangin, di jaman berkembangnya teknologi alat tulis yang sudah mendunia seperti sekarang ini, sudah berapa lama coba, aku tidak menggunakan teknik tulis-menulis pakai tangan? Kalau dari pekerjaan pokokku, memang ada, sih, acara tulis-menulis. Tapi cuman untuk beberapa lembar, dan tidak yang setiap hari penuh. Bukan yang terus-menerus selama beberapa jam tanpa jeda. Pffftt! Tangan sudah lama nggak dibuat nulis kan kayak berasa kaget gitu, semacam keram, lah. Betapa rasanya tanganku ingin berteriak kecapekan, merekap angka-angka kecil dengan menuliskannya di tabel-tabel kecil pula? Mata yang harus terus-menerus stand by, menyesuaikan jumlah angka, letak deretan tabel dan kerja tangan yang seimbang, agar semua berjalan stabil dan tidak ada kekeliruan.

Ah.. Tapi, aku bersyukur bisa melewati itu semua. Karena baru pertama kali ini aku ikut bergabung dalam tim PPL, baru kali ini juga aku tahu sebagian tugas dibalik berlangsungnya Pesta Demokrasi Rakyat Indonesia atau Pemilu. Meskipun itu lumayan bikin super-duper capek, tapi itu sangat menyenangkan. Sebagai kegiatan awal yang baru saja aku jalani, aku rasa.. Kendala, kecapekan, kebingungan, dan ke-nervous-an yang aku rasakan itu wajar-wajar saja. Mungkin aku bisa memperbaikinya di lain kesempatan. Kalo ada sih.. :D

Kisah Pengawas Pemilu Lapangan
Source: Pesta Demokrasi Rakyat
Inilah pengalaman baru, yang berlangsung selama 7 bulan terakhir. Dan, ternyata ke-nervous-an itu hanyalah sindrom yang menyerangku ketika ketakutan akan menghadapi sesuatu yang baru menaungiku. Betapa kagetnya aku, ketika aku berani mengeluarkan suara untuk sedikit berdebat dengan ketua KPPS yang tidak mau memberikan rekap form C dari TPSnya. Hal seperti itu, yang selama ini aku ragukan bisa keluar dari diriku. Mungkin hal biasa bagi beberapa orang yang suka berdebat, tapi itu tidak biasa untukku, yang sama sekali tidak suka atau bahkan tidak bisa berdebat dengan jernih. Ini Pengalama Baru.. Dan aku ingin terus mencobanya lagi, dan lagi.

Dan, yang terakhir untuk orang-orang yang memilih Golput. Lihatlah kerja tim dibalik layar Pesta Demokrasi Rakyat itu, aku rasa bukan aku saja yang merasakannya. Tolong untuk menjadi bahan pertimbangan juga di Pesta Demokrasi Rakyat pada tahun-tahun berikutnya, untuk tidak lagi memilih Golput. Karena di setiap TPS yang aku bawahi, hampir dari 40% pemilik hak pilih, menyia-nyiakan kesempatan itu begitu saja. Mari tunjukan partisipasimu, untuk Indonesia kedepan  yang lebih baik.

8 comments:

  1. Bener sob, apalagi bagian input data pemilu hehe... meskipun hanya angka2.. tapi dgn beribu2 suara tetap saja sangat melelahkan.. salam blogger

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, vroh.. Bikin mata merem-melek dengan pencocokan letak angka dan tabel yang harus sesuai, tangan rasanyah :/
      Salam Blogger :D

      Delete
  2. tampaknya sangat melelahkan ya...

    ReplyDelete
  3. Sebagian orang menganggap bahwa golput adalah sebuah pilihan. Dan semua orang bebas menentukan pilihannya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau mungkin menurut beberapa orang yang golput, sudah tidak ada lagi calon yang bisa dipercaya, itu sama dengan pemikiran saya. Tapi saya masih berusaha dengan apa yang sudah saya tuliskan di artikel di atas.

      Golput memang sebuah pilihan, tapi alangkah baiknya jika kita ikut menentukan calon-calon yang akan membawa nasib bangsa kedepannya, dengan pertimbangan-pertimbangan di atas. Sekecil apapun itu bentuk partisipasinya.

      Demokrasi memang memberikan kebebasan seseorang untuk memilih, dan ini hanya sekadar opini, yang menjadi pilihan saya.

      Terima kasih sudah mampir di blog ini :)

      Delete
  4. selamat berbakti pada negeri :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sudah bisa dibilang "Berbakti Pada Negeri" ya? :)

      Delete

Spamming? Nope!

You Can Contact Me

elisa.fariesta@gmail.com