Personal Blog

Personal Lifestyle Blogger, Parenting, Review, Culinary, Travel, Tips and more...

About Me

[Kisah Misteri] Antara Bunda, Si Abang dan Atmaja.

with 2 comments
Rrrrgh.. Rrrrgh.. Rrrrgh.. Rrrrgh..

"Suara itu? Dari mana asalnya?" Bunda mengedarkan pandangannya di setiap sudut rumah. Tidak ada. Tidak ada. Lalu, dari mana asal suara itu? Sinta yang ketakutan sambil memeluk erat tubuh mungil adik, mencoba mendekat kepada bunda yang masih berusaha untuk menemukan asal dari suara erangan itu. Tapi Bunda melarang Sinta untuk mendekatinya, mengingat tempat Bunda berdiri sekarang ini berseberangan dengan Sinta yang berada di depan kamar utama, sedangkan suara erangan itu, samar terdengar dari ruang tamu yang sekaligus biasa menjadi tempat berkumpul mereka untuk menonton televisi, di antara kamar utama dan ruang makan, tempat Bunda berdiri sekarang. Takutnya nanti, ketika Sinta melintas, melewati ruang tamu. hal yang tidak diinginkan Bunda, terjadi pada Sinta dan Adik. Dengaisyarat dari gerak tubuhnya, Segera bunda menyuruh Sinta bersama adik untuk keluar melalui jendela kamar. Berhasil. Sinta dan adik sudah keluar dari rumah, dan menuju rumah tetangga yang saat itu pintunya tampak masih terbuka. Jebret. Pintu rumah tertutup. Sinta dan adik aman.

Bunda. Bunda masih berusaha mencerna, mencari dari mana asal erangan itu, Bunda mendongakkan kepalanya ke dinding dan atap-atap rumah, tepat di atas televisi, ternyata Si Abang sudah bertengger di atasnya. Iya, bertengger di atas televisi yang masih berbentuk tabung itu, suara erangan itu pun terdengar semakin lantang, sambil membawa batangan besi panjang, dengan mata mendelik yang seakan siap untuk menerkam Bunda. Entah, se-ringan apa badan Si Abang saat ini. Di saat seperti ini, anehnya pintu belakang yang biasanya terbuka lebar, kebetulan saja sekarang menjadi terkunci rapat, tanpa bisa berfikir untuk menemukan kunci pintu belakang. Bunda mencoba melangkahkan kaki dengan pelan menuju pintu depan yang berada tepat di sebelah ruang televisi itu. Si Abang turun dan mencoba meraih Bunda yang ketika itu sudah berhasil melewati pintu depan rumah, tapi Bunda berlari sekuat tenaga, pintu rumah tetangga seakan bergeming tanpa penghuni, semua tertutup rapat, hening, sunyi, dan mencekam. Iya, setiap kali Si Abang berulah, tidak ada satupun tetangga yang berani membuka pintu rumahnya. Bunda terus berlari terengah-engah di sepanjang gelapnya jalanan malam yang mencekam itu. Beruntungnya, Mbok Ijah, tetangga belakang rumah, masih berani keluar dari rumahnya, dan mengingatkan Si Abang yang memburu Bunda. Merasa terganggu dengan ucapan Mbok Ijah, Si Abang langsung mengibaskan batangan besi panjang di tangannya, untung saja, bukan Mbok Ijah yang menjadi sasarannya, melainkan genteng rumah Mbok Ijah yang menjadi porak-poranda. Dan, tentu saja Bunda tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, Bunda terus berlari, berusaha untuk mencapai tempat ibadah, masjid yang jaraknya lumayan jauh dari rumah. Waktu itu sudah menjelang maghrib dan di sana sudah ada sekumpulan bapak-bapak yang menunggu datangnya sholat maghrib. Pak Ilyas, salah seorang dari kumpulan bapak-bapak tersebut, menegur Bunda. "Ada apa Bu Fajar datang ke masjid dalam keadaan berantakan seperti ini?" Memang, sebelum Si Abang berulah, Bunda baru saja selesai memasak, menyiapkan menu untuk makan malam nanti. Bunda menceritakan kejadian Si Abang yang berulah kepada Pak Ilyas. Dengan penuh pengertian Pak Ilyas menawarkan kepada Bunda untuk tinggal sejenak di rumahnya, sampai keadaan membaik. Dan, Bunda menerima niat baik Pak Ilyas tersebut.



[Kisah Misteri] Antara Bunda, Si Abang, Dan Atmaja.
Source: Ilustrasi Atmaja

Bunda ditemani istri Pak Ilyas, seusai sholat maghrib di rumahnya. Di sisi lain Si Abang mencari-cari di mana Bunda berada, tapi tak pernah Si Abang temukan. Dengan gusar Si Abang menunggu Bunda, untuk segera kembali pulang ke rumah, tapi itu tidak pernah terjadi. Belum ada kabar dari Sinta. Dengan hati dan pikirannya yang sedikit merasa tenang, Bunda mencoba menghubungi telepon genggam Sinta, menanyakan di mana dia sekarang, dan bagaimana keadaannya beserta adiknya. "Aku berada di rumah Dwi, Bunda. Aku baik-baik saja, adik juga sepertinya sudah merasa kelelahan, dia tidur sekarang." Bunda merasa lega mendengar kabar dari putrinya itu. Tidak berpikir lama. Bunda segera menghubungi Ayah untuk segera pulang. Ayah yang saat itu memang belum pulang dari tempat kerjanya karena Ayah mendapat shift siang, jadi Ayah pulang agak malam hari ini.

Setibanya Ayah di rumah, semua lampu dalam keadaan mati. Rumah tampak gelap. Si Abang yang sudah menyadari kedatangan Ayah, berteriak dari dalam rumah. "Masuklah kau Fajar! Segera nyalakan lampunya. Aku tau. Kau pasti datang mencariku!" Si Abang memang selalu memanggil Ayah dengan tidak sopan. Dan, lagi-lagi itu terjadi ketika Si Abang sedang berulah. Ayah yang saat itu sudah paham benar dengan apa yang harus dilakukannya, segera masuk ke dalam rumah, menyalakan meteran listrik, dan menemukan Si Abang duduk bersila di atas meja makan, yang tadinya makanan sudah tersaji dan ditata rapih oleh Bunda, sekarang sudah tampak berantakan. Sambil mengayun-ayunkan batangan besi yang dari tadi masih di bawanya dengan mulut yang penuh dengan makanan. Mata Si Abang seakan menantang kehadiran Ayah.  raut wajahnya gusar dan tampak senyum penuh kemengangan di sana. "Atmaja, apa sebenarnya yang kamu inginkan dari keluargaku?" Si Abang tertawa keras, sekeras-kerasnya. "Oh, ternyata kau sudah menyadari, akulah yang saat ini menguasai raga anak kebanggaanmu ini, Fajar. Hahaha. Aku hanya ingin bermain-main dengan keluargamu, Fajar. Aku kesepian, setelah sekian puluh tahun Ayahmu menelantarkanku begitu saja, sepertinya menyenangkan sekali bisa bermain-main dengan keluargamu ini." Tanpa berfikir panjang, Ayah segera melafadzkan ayat-ayat Al-Qur'an untuk memisahkan Atmaja, teman gaib kakek dulu, dari raga Si Abang.

Atmaja terpisah dari raga Si Abang. Si Abang lunglai. Setelah Bunda mendengar kabar itu dari Ayah, Bunda kemudian menjemput Sinta dan Adik, mengajak mereka untuk segera pulang ke rumah, melihat keadaan Si Abang. Si Abang merintih, meratapi rasa sakit yang menjalari seluruh tubuhnya. Bunda menangis, Ayah menenangkan, Sinta dan Adik hanya bisa terdiam merenungi keadaan Si Abang. "Malang sekali nasibmu, Nak." Isak Bunda. Malam yang sangat mencekam. Dan, dari kejauhan,  "Lain waktu, aku akan mengajakmu bermain-main dengan Dimas, lagi, Sari." Atmaja bergumam lirih, penuh dendam.

Aku hanya bisa mengamati setiap laju kejadian itu, di tempatku berdiri saat ini. Di bawah rimbunnya pohon beringin.

2 comments:

Spamming? Nope!

You Can Contact Me

elisa.fariesta@gmail.com