Personal Blog

Personal Lifestyle Blogger, Parenting, Review, Culinary, Travel, Tips and more...

About Me

Dongeng Semusim - Sefryana Khairil [Book Review]

with 7 comments

Pada suatu cinta,Kisah ini pernah ada.


"Sayang" dan "Cinta" tak pernah cukup untuk mempertahankan sebuah pernikahan. Lalu, bagaimana caranya mempertahankan pernikahan yang seperti ini?"

Kisah tentang Nabil dan Sarah. Tiga kali membacanya, saya selalu meneteskan air mata. Entah karena saya cengeng, atau memang sang pencipta telah menyisipkan rasa sendu di setiap kata yang tertulis di dalamnya. Dalam kisah ini, Cinta dan Sayang yang semula menjadi alasan terjalinnya sebuah ikatan pernikahan, bukan lagi menjadi hal yang utama. Pada awalnya, pernikahan mereka berjalan sangat harmonis. Sarah percaya, Nabil adalah dunia untuk dipijaki. Sarah memutuskan menjadi Mu'alaf, mengikuti kepercayaan Nabil, dia sangat yakin bahwa langkah yang diambilnya itu benar, meskipun harus bertentangan dengan Ayah dan Kakaknya. Tapi itu sama sekali tidak mengganggu kebahagiaan masa-masa awal pernikahan mereka. Kebahagiaan demi kebahagiaan, seakan deras mengaliri hari-hari mereka.


Sebagai seorang Mu'alaf, Sarah sangat antusias untuk belajar semua tentang agama Islam, terlebih melihat Puspa, adik Nabil, yang merupakan seorang aktivis di kampusnya, sering mengikuti pengajian serta ceramah agama. Sarah ingin mengikuti kegiatan-kegiatan agama, seperti halnya Puspa. Tapi.. Nabil terlihat seakan tidak mendukung niat dan usaha Sarah tersebut, hal itu membuat Sarah heran dengan sikap yang ditunjukkan oleh Nabil. Namun Sarah tetap pada pendiriannya, dia menganggap itu hanya perasaannya saja.

Untuk sebuah pernikahan, segalanya pasti akan terasa semakin sempurna jika di dalamnya terdapat celoteh anak-anak kecil yang mungil. Demikian yang diungkapkan Sarah kepada Nabil "Aku nggak mau apa-apa. Memiliki keluarga sederhana dengan tawa riang anak-anak kita, itu sudah cukup buatku." Sebaliknya, Nabil menanggapi kalimat yang diucapkan Sarah dengan seulas senyum, yang terpaksa.

Dongeng Semusim - Sefryana Khairil [Book Review]
Dongeng Semusim By. Sefryana Khairil
Perubahan demi perubahan dilalui Sarah. Belajar mengaji, sholat, dan berhijab, melalui Puspa dan Gladys -sahabatnya di tempat kerja-. Dan, Nabil tidak menyukai perubahan itu. Dia menginginkan Sarah yang dulu. Sampai pada suatu ketika, Sarah positif hamil. Nabil linglung ketika mendengar pernyataan dokter yang membacakan hasil tes urine Sarah. Nabil yang menganut faham "Just For Fun. Menikmati hidup selagi masih bisa. Go with the flow. Dan.. Semua pasti akan berjalan sesuai dengan keinginannya" seakan dunianya hancur. Keinginannya berbanding terbalik dengan Sarah yang sangat menginginkan kehadiran anak kecil dalam rumah tangganya, sedangkan Nabil, dia tidak mau terganggu dengan kehadiran anak kecil dalam rumah tangga barunya dengan Sarah. Meskipun Nabil tidak secara langsung menunjukan sikap tidak sukanya, namun Sarah tahu, ada yang salah dengan sikap Nabil. Sarah mencoba untuk menanyakan, apa yang salah dari dirinya. Tapi, Nabil masih berusaha untuk menutupi apa yang menyebabkan perubahan sikapnya. Dia masih berusaha untuk menunjukkan rasa pedulinya kepada Sarah. Tidak ingin perempuan yang dicintainya sedih dan terluka. Melawan "keanehan" yang dirasakannya. Tapi, seiring dengan berjalannya waktu, Nabil akhirnya jengah dengan keadaan yang menyimpang jauh dari apa yang diinginkannya. Sarah berubah. Kehamilan Sarah semakin membuatnya merasa.. tidak tentu arah. Dia benar-benar belum menginginkan kehadiran anak itu. Dia masih ingin menikmati saat-saat berdua dengan Sarah. Dia masih ingin menikmati hidup. Seperti yang dia inginkan.

Dengan umur kehamilannya yang masih muda, yang seharusnya benar-benar dijaga dengan baik, kabar kematian sang ayah semakin membuat Sarah down. Belum lagi, perubahan sikap Nabil, yang semakin membuat Sarah tidak mengerti, dan tidak bisa berhenti berfikir. Tapi, Sarah berusaha untuk tetap kuat, sesuai dengan pilihan yang diambilnya. Nabil adalah dunianya. Dunia yang harus dipijakinya. Dengan kebesaran hatinya, Sarah mencoba untuk memahami sikap Nabil, tapi Nabil semakin menjadi. Dia tidak mempedulikan Sarah lagi. Aan dan Rizky, sahabatnya, mencoba untuk mengingatkan Nabil, bahwa suatu saat kita pasti akan berada pada kondisi yang tidak kita inginkan. Tanpa menggubris, Nabil lebih memilih untuk melarikan diri. Meninggalkan Sarah, perempuan yang sangat dicintainya. Dengan berencana pergi sejauh mungkin, tanpa sepengetahuan Sarah.

"Sinting! Benar-benar sinting!
Hanya demi seseorang yang sangat berarti dia jadi tidak waras begini. Biasanya dia bisa tenang menghadapi masalah, tetapi sekarang ia tak bisa konsentrasi sedikit pun. Pikirannya kalut."

Tepat ketika Nabil berada di bandara, dia mendapat pesan singkat dari Gladys. Sarah pendarahan, bayi dalam kandungannya tidak terselamatkan. Nabil luruh seketika. Dunianya dua kali lebih hancur. Menyesal dengan apa yang sudah dia lakukan. Dia berhasil membuat perempuan yang dicintainya jatuh dan terluka, menanggung risiko dari perbuatan bodohnya. Dan..

Baca sendiri, ya, kelanjutan Novelnya :p

Dari kisah tersebut, saya mendapat pesan bahwa..


"Jodoh itu tidak serta merta didapat dengan mudah dan sendirinya. Meskipun dia sudah berada tepat di depan mata. Masih ada puluhan bahkan jutaan kubangan yang mesti dilewati. Untuk meyakinkan diri bahwa dia memang benar-benar jodoh kita. Kalau memang semua kubangan itu bisa terlewati dengan baik. Yakinlah bahwa jodoh yang tepat itu sudah berada ditangan kita. Intinya jangan mudah menyerah dengan keadaan kalau memang hasil terbaik yang diinginkan. Pertengkaran, perselisihan, salah paham adalah hal sederhana. Memahami, mengerti, memaafkan adalah hal yang terpenting. Dan semua itu adalah kata lain dari Cinta Sejati dengan ketulusan yang tiada henti."

Karena, kurang lebih, seperti itulah masa-masa yang juga pernah saya lalui bersama lelaki yang menjadi teman hidup saya saat ini. Meskipun bukan karena masalah anak atau pun agama. Seburuk apa pun itu, saya masih harus berhadapan dengan proses jatuh-bangun yang sangat panjang. Untuk membuktikan, bahwa lelaki yang mengisi hari-hari saya saat ini, adalah jodoh saya. Mungkin setelah proses jatuh-bangun tersebut, Cinta dan Sayang akan semakin tumbuh dengan rindang, meneduhkan setiap hati yang berada dalam bimbang. Mungkin.

*****

7 comments:

  1. Sepertinya ceritanya menarik :) Jadi penasaran ...

    ReplyDelete
  2. aku udah baca, tapi belum ngereview. buku bagus untuk para pasangan yang sudah atau akan menikah. sebab cinta saja tidak cukup untuk mempertahankan sebuah keluarga

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, mak. Memang dalam keluarga cinta dan sayang itu adalah yang utama, tapi kalau tidak bisa melewati proses bertumbuhnya dua rasa tersebut, keduanya tidak akan lagi bermakna. Recommended!

      Delete
  3. Jadi penasaran nih dengan bukunya,

    ReplyDelete
  4. Wah, reviewnya keren, novel ini cukup menarik memang... oiya, klu ada yang mau beli, di toko buku kami masih ada ya....

    ReplyDelete

Spamming? Nope!

You Can Contact Me

elisa.fariesta@gmail.com