Personal Blog

Lifestyle, Parenting, Review, Culinary, Travel, Tips and more...

About Me

Mengesampingkan "Gengsi" demi Terjalinnya Silaturahmi

with Leave a Comment
Lebaran merupakan hari spesial, hari di mana setiap umat muslim di seluruh alam semesta ini merayakan kemenangan setelah 30 hari melawan hawa nafsu, menahan lapar dan dahaga, serta melakukan kebaikan demi kebaikan dalam menjalankan segala perintah tuhan Allah SWT yang dalam 30 hari tersebut pahala untuk setiap amal baik yang dikerjakan akan dilipat gandakan.

Lebaran pun memiliki tradisi beragam yang selalu dirindukan setiap tahunnya, seperti;

  • Tradisi ngabuburit sambil menunggu bedug maghrib tiba,

  • Tarawih dan tadarus yang bisa sekaligus dijadikan momen tepat dalam usaha mencari calon pasangan dunia akhirat untuk digandeng pas kumpul keluarga. Mayan kan, jadi bisa menghindari pertanyaan-pertanyaan monoton seputar "aduh, udah ada ubannya satu tuh, terus nikahnya mau kapan?"

  • Tradisi menghidangkan ketupat dan opor ayam sebagai makanan khas saat lebaran, tapi meski banyak yang mengklaim hidangan khas lebaran adalah ketupat dan opor ayam, di keluarga saya sendiri lebih memilih menghidangkan rawon daging sebagai pelengkap hari kemenangan, nggak lupa menu seafood khas pantura juga tentunya,

  • Tradisi menyajikan kue lebaran seperti nastar, kastengel, dan jajanan mlinjo manis, madu mongso, kuping gajah pun nggak ketinggalan ikut serta meramaikan.

Dan tradisi yang paling menentukan bagaimana agar lebaran berlangsung lebih afdhol dan penuh keceriaan adalah.. Tradisi mudik, tradisi di mana  para perantau akan kembali ke kampung halaman, sanak saudara yang jauh maupun dekat berkumpul untuk merayakan hari kemenangan bersama dengan penuh kebahagiaan. Semua itu nggak lain agar mereka bisa saling silaturahmi di hari yang fitri.

Namun terkadang, ada di sekitar kita orang-orang yang enggan memasuki rumah tetangganya karena gengsi kalau harus meminta maaf duluan, ada juga yang gengsi untuk memulai silaturahmi lebih dulu karena kebiasaan di mana yang muda harus mendatangi yang tua, padahal silaturahmi itu sesuatu yang baik yang boleh dan sah dilakukan siapa saja yang mau memulainya, tanpa harus menunggu pihak mana yang mendatangi lebih dulu, bahkan kalau hanya saling menunggu, kemungkinan akhirnya malah bikin silaturahminya terputus, yang paling parah adalah gengsi karena merasa mereka lebih "WOW" dibanding dengan yang lain. Iya, ada yang masih kayak gitu juga in this serba gercep, instan, digital era -_-".

Padahal, silaturahmi itu merupakan salah satu perintah Allah SWT yang sangat sederhana untuk dilaksanakan dan memiliki manfaat luar biasa, lho.

Manfaat yang sangat bisa kita rasakan sehari-hari melalui terjalinnya silaturahmi yang baik adalah: Kita bisa saling tolong-menolong sama tetangga, entah ada hajatan khitanan atau nikahan, mau "ngaturi" tetangga jadi nggak serba awkward, syukur-syukur kalau tetangganya lagi senggang dan bersedia bantu-bantu, pun sebaliknya. Terus contoh lebih sederhanya lagi, kalau misal kita sedang nggak di rumah sementara hujan datang dan cucian masih ada di jemuran, dengan tenang hati kita bisa menyampaikan permintaan tolong ke tetangga yang kebetulan ada di rumah. Semua bisa jadi terasa ringan bukan?

Nggak hanya hubungan baik dengan tetangga saja yang terjaga, silaturahmi juga bisa memperluas bahkan menambah pintu rizki. Contoh nyata yang saya rasakan adalah; dulu ketika saya masih aktif banget ikut ngobrol, haha-hihi, menjalin silaturahmi di grup blogger, kesempatan mendapat side job begitu banyak, dan alhamdulillah yang tersaring juga lumayan banget mengingat tujuan awal blog ini dibuat hanya sekadar menjawab sebuah rasa penasaran dan ketertarikan akan dunia blog, sampai bisa sejauh ini sungguh membuat saya bahagiaaa dan bangga /oke. jujur itu nggak dosa kan, ya? XD/. Bedanya sama sekarang.. Saya jarang ikut diskusi di grup WA, telegram, akun twitter/insta komunitas blogger, etc etc, dan tentu ada perubahan drastis yang saya rasakan, blog jadi sedikit terabaikan, job sih masih ada, tapi nggak se-loss dulu, tapi sebenarnya harus kontrol diri juga sih, takutnya saya sudah ikut apply di form job terus pas ngerjain mager kayak kemarin, kan kagak lucu -_-"

Dan satu lagi manfaat paling utama dari menjalin silaturahmi adalah, seperti halnya peribahasa "sambil menyelam minum air" selain mendapatkan 2 manfaat yang sudah saya sebut di atas, menjalin silaturahmi juga merupakan salah satu bentuk ketaatan kepada Allah SWT yang wajib dilaksanakan setiap muslim dan muslimah.

Nah, dari ikut meramaikan dan merasakan keceriaan tradisi lebaran di hari kemenagan yang membahagiakan serta manfaat yang akan diperoleh ketika kita menjalin silaturahmi dengan baik seperti yang saya sebutkan di atas, apakah kita masih kekeuh dengan mengutamakan gengsi daripada menjalin silaturahmi? Duh, seriusan itu banyak ruginya lho, sist.

Oiya. BTW buat tuan-tuan, nyonya-nyonya, kakak-kakak, dan adik-adik "pegiat politik" yang kemarin pas pilpres gencar banget ngeluarin suaranya sampe pake toa segala di beranda facebook, timeline twitter, feeds instagram, WAG atau medsos lain yang cuma seukuran kuku jari kelingking kaki kiri, jangan lupa minta maaf tuh sama friend list-nya, teman se-grup-nya, mutualannya atau apalah namanya, karena kalau menurut saya pribadi itu sangat mengganggu dan saya yakin bukan hanya saya yang merasakan itu. Sok, mumpung moment lebarannya masih kental, bolehlah menjalin kembali silaturahmi yang baik dengan memulai minta maaf lebih dulu. Oke? 


Salam!
Manfaat Menjalin Silaturahmi









0 Komentar:

Post a Comment

Spamming? Nope!

You Can Contact Me

elisa.fariesta@gmail.com