Personal Blog

Personal Lifestyle Blogger, Parenting, Review, Culinary, Travel, Tips and more...

About Me

Berdamai dengan Kehilangan.

with 19 comments

Berdamai dengan Kehilangan

Judul "Berdamai dengan Kehilangan" di atas saya ambil dari salah satu peserta Giveaway Kehilangan yang sudah saya adakan bulan lalu. Entah kenapa saya tertarik menggunakan judul tersebut, mungkin karena ada kata "Damai" di sana, dan saya pun merasa tersugesti dengan kata tersebut. Merasa damai.

Banyak cara orang menghadapi rasa kehilangannya, mulai dari yang terpuruk dalam kurun waktu yang nggak masuk di akal, ada pula yang dengan tegar dan ikhlas, merelakan apa yang sudah terjadi. Seperti salah satu kalamullah dalam Al Qur'an: "Kun Faayakuun", apa yang Dia kehendaki maka terjadilah, kita sebagai manusia hanya bisa berdo'a dan berusaha, hasil akhir hanya Yang Maha Esa yang tahu *benerin hijab*.

Setelah membaca tulisan para peserta, saya menangkap beberapa cara untuk "Berdamai dengan Kehilangan" dari tulisan-tulisan tersebut, tentunya cara yang biasa saya dan orang kebanyakan lakukan juga.

Mendatangi tempat-tempat yang memiliki kenangan khusus 
Melakukan hal ini akan menjadi sangat berat, mendatangi tempat yang penuh dengan kenangan masa lalu, terus mau apa? Semakin menyakiti diri sendiri? Memang, tapi dengan itu, kita bisa puas-puasin buat mengingat kenangan menyenangkan sekaligus menyedihkan di sana. Dan setelah puas mengenang semua itu, maka..

Menangis sepuasnya untuk meluapkan emosi, kekecewaan, serta kesedihan dalam hati
Yah.. Setelah puas bernostalgia, menangis adalah cara yang ampuh untuk sedikit melampiaskan semua emosi yang terpendam dalam hati. Berharap semua emosi jatuh bersamaan dengan tetes air mata, begitu pula beban dalam hati, semoga akan sedikit berkurang. Jangan lupa juga untuk..

Mengeluarkan uneg-uneg atau curhat dengan orang terdekat
Dengan mengungkap uneg-uneg kepada orang terdekat yang bisa dipercaya atau curhat sepuasnya kepada Tuhan yang Maha Esa, mungkin akan membuat fikiran sedikit tenang han hati terasa lega. Meski belum tentu mendapat solusi, paling nggak kita sudah meluapkan semua keluh kesah kita, yang penting curhat dan emosi dalam hati pun sedikit terkuras.. Setelah semua uneg-uneg sudah tercurahkan..

Lakukan kegiatan yang menyenangkan
Fikiran tenang, hati lega, saatnya untuk bersenang-senaaang! Makan makanan kesukan, jalan-jalan entah itu sendiri atau bersama orang terdekat, melakukan pekerjaan positif seperti mengikuti kegiatan sosial di lingkungan, serta melakukan kegiatan yang menjadi hobi kita. Hal tersebut akan sedikit membuat kita lupa dengan masa-masa kehilangan yang sudah kita lalui. Setelah kita merasa terhibur dengan hal-hal yang sudah kita lakukan, selanjutnya..

Menatap masa depan yang masih panjang
Kita nggak boleh terus-menerus meratapi kehilangan yang sudah kita lalui. Cukup untuk kesedihan yang kita rasakan, berilah waktu dan ruang untuk kebahagiaan di masa depan, moving on. Tentunya dari kisah kehilangan yang sudah kita lalui, kita akan mendapat sebuah pengalaman berharga yang bisa kita pelajari, agar nggak terperosok dalam kejadian yang sama. Langkah terakhir untuk "Berdamai dengan Kehilangan" adalah..

Ikhlas dan yakin akan ada sesuatu yang lebih baik
Yakinlah, Allah menciptakan sesuatu itu pasti sepaket, dari kehilangan yang sudah kita alami, di sana akan ada sesuatu baru yang bisa menggantikannya. Meskipun nggak serta-merta sepenuhnya bisa sama dengan apa yang sudah hilang tersebut. Tapi mungkin itu yang terbaik buat kita. Klise memang, tapi mau bagaimana lagi, "Kun Faayakuun" apa yang Dia kehendaki maka terjadilah" kita pun harus menerima apa yang sudah terjadi. Ikhlas.

Sederhana, tapi mungkin semua cara tersebut akan terasa sulit bagi orang yang sedang mengalaminya. Menghadapi kenyataan yang menyedihkan. Tapi seenggaknya kita harus berusaha untuk masa depan yang lebih baik, bukan begitu?

19 comments:

  1. Poin terakhir itu susah tapi kalau bisa dijalanin, plong rasanya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ikhlas itu emang rada-rada susah ya, Mba.. Tapi ya.. Emang harusnya seperti itu, sih. :)

      Delete
  2. saya paling suka pas melakukan kegiatan yang menyenangkan heheh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sedikit pengalihan yang pas ketika ada masalah. :D

      Delete
  3. tidak ada yang abadi di dunia ini...siap tidak siap ya harus siap... gitu kali ya mbak..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mba.. Semua sudah ada yang ngatur, kita tinggan jalanin yang terbaik aja. :)

      Delete
  4. hiiik, sya jadi ingat saat kehilangan jabang bayi yang ternyata lelaki, berdamai tetapi tetap berharap. moga anak yang dikandungan saat ini adlah penggantinya, aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, itu, Mba.. Kita nggak boleh putus harapan, karena masih ada masa depan yang panjang. Tentunya akan lebih baik jika kita nggak terus-terusan meratapi apa yang sudah terjadi. #sokbijak

      Delete
  5. Aku juga sering banget kehilangan. Berdamainya itu susah. Tapi sekarang suami lebih ngerti sih, bisa nenangin dan bikin santai. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Peran orang terdekat memang sangat penting, Mba.. Memberi solusi atau enggak, yang penting sedikit bisa menenangkan.:D

      Delete
  6. Berdamai dengan kehilangan prosesnya itu cukup sulit mungkin kunci untama dari itu adalah ikhlas

    @siethi_nurjanah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener, Mba.. nggak semudah bikin tulisan ini yang jelas.. Hehehe ^^

      Delete
  7. Di awal-awal kok kayaknya susah move on detected ya? :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Biar puas tenggelam dalam kenangan dolooo.. Habis itu baru move on. :p

      Delete
  8. ikhlas sih yang kadang masih susah dilakukan ketika mengalami kehilangan hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu yang malah bikin nggak bisa move on juga, sih. :)

      Delete
  9. Ikhlas kuncinya namun perlu usaha untuk melakukannya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dan usahanya emang lumayan berat. :)

      Delete
  10. Ikhlas, hal itu yg masih saya perjuangkan, karena kalau ingat, langsung nyeysek banget 😢😢

    ReplyDelete

Spamming? Nope!

You Can Contact Me

elisa.fariesta@gmail.com